Pulanglah aku rindu kamu

yang berpetualang akan senantiasa rindu pulang.

merindukan uluran tangan yang siap menerima hadirnya dengan lapang .

merindukan pelukan hangat yang tak pernah gagal membuat tenang.

atau mungkin,merindukan tawa riang orang-orang tersayang obat dari segala lelah yang menerjang meski demikian pulang selalu memiliki definisi yang berbeda dalam setiap kepala ,memberikan beragam makna dalam setiap jiwa.

barangkali bagi mereka yang saat ini sedang jatuh cinta pulang paling nyaman adalah si dia namun bagi mereka yang saat ini memperjuangkan cita-citanya jauh di rantau sana pulang paling indah adalah keluarga. tapi yang pasti menahan keinginan untuk pulang memang tidak pernah gampang dan yang namanya Rindu tidak pernah sesederhana itu..

.

.

.

.

.

coretanaksaraku ( argonavis )

Iklan

selasa, 15 Januari 2019

aku mencarimu ..
aku meperjuangkanmu..
aku melindungimu..
aku menunggumu..
dan aku memikirkanmu..
meski aku tau sedikitpun aku tak ada dihatimu , kau mengingatku sebagai luka yang dalam sedangkan aku mengingatmu sebagai orang yang kucintai dengan sepenuh hati..
aku masih disini menunggu dengan penuh harap dan cinta yang terbalas dan kau berlari menghindari membawa semua harapan baru yang tidak ada aku didalamnya .
aku memikirkanmu dan kau memikirkannya
aku memperhatikanmu dan kau memperhatikannya
aku mendoakanmu dan kau mendoakannya
dan aku melihatmu dengan cinta sedangkan kau melihatku dengan luka dan kebencian
biarkan aku lelah sendiri dalam memperjuangkanmu , karna akan ada saat bagiku berhenti mencintaimu karna pengabaianmu..

malam 15 Januari 2019

Tiada yang lebih beku dari perjumpaan dua manusia pemalu.

Hadirnya dua katup bibir, tak menjamin ada cuap di sana. Maka merekalah para ahli diam—untuk selanjutnya menjadi para ahli tebak. Karena tak ada yang bisa dilakukan untuk sebuah kebisuan kolektif selain menebak dan menebak. Sebab itu di sanalah kerap terjadi sebuah tragedi memilukan yang biasa kita sebut ‘tertipu oleh apa yang direka sendiri’.
ㅤㅤ
Cerita cinta para pemalu adalah kisah yang penuh rindu pilu. Mereka habiskan senja untuk menanti bulan pujaan di perempatan jalan, untuk sekadar menatap dalam diam. Sampai sang bulan berlalu, berjalan menjauh, lalu menyisakan bayangan punggungnya untuk kemudian hilang.
ㅤㅤ
Kasihanilah mereka: para ahli memendam rasa; Para ahli membisu hati; Para ahli sungkan bicara.
Kasihanilah, kasihanilah.
ㅤㅤ
Tapi, bersiaplah. Karena barangkali ketika kau tanyakan seberapa bahagia mereka, kau akan sadar bahwa sejatinya kaulah yang lebih pantas dikasihani. Lalu kau akan menangis. Tersedu.
ㅤㅤ
Dalam rindu yang—ternyata—semu.
ㅤㅤ
***

 


ㅤㅤ
Prosa berjudul ‘Dua Pemalu’ di dalam buku Ja(t)uh
@azharologia.store

Membenci

Karena kita tak mungkin hidup sendiri, kita tak bisa menghindar dari interaksi. Dan dalam interaksi itu berbagai hal bisa terjadi. Tak jarang, kita mendapati hal-hal yang tak menyenangkan seperti: kata-kata yang melukai hati, tindakan yang miskin empati, atau ketidakpekaan yang rasanya bikin kita ingin bunuh diri.

Hal-hal itu terasa tidak ideal. Tak sesuai ekspektasi. Dan tentu saja, mengganggu pikiran dan membuat kita merasa tidak nyaman.

Sebab itu, kita merasa berhak untuk marah. Atau, karena kita tak mau terlihat menyebalkan, diam-diam kita membenci.

Kita pikir, kebencian kita pada seseroang yang sudah melukai perasaan kita, adalah semacam hukuman yang setimpal. Kita pikir, dengan membenci, kita bisa lupa akan hati yang telah atau sedang terluka. Dan karena itu kita terus melakukannya, masa demi masa.

Padahal, ketika kita membenci seseorang, siapakah sebenarnya yang dirugikan? Orang yang kita benci, yang bahkan mungkin tak tahu bahwa ia sedang dibenci? Atau, justru diri kita sendiri, yang menghabiskan menit demi menit untuk mengorek berbagai kekurangannya, membakar banyak energi untuk menemukan kesalahan-kesalahannya, sambil terus membungkus diri dalam aura negatif?

Ini barangkali terdengar klise, naif, sekaligus tidak adil. Tapi, kita memang perlu terbiasa untuk memaafkan.

Memaafkan orang yang sudah menyakiti hati kita, barangkali seperti mencabut anak panah yang menancap di paha. Perih, sakit, bahkan sampai bikin kita menangis dan menjerit. Tetapi, bagaimanapun, cuma itu cara untuk benar-benar pulih.

 

 

 

Azhar Nurun Ala

Sabtu, 12 Januari 2019

Jangan lagi memaksakan apa yang kau inginkan.
AKU MAU ITU.
AKU MAUNYA GINI.
AKU MAUNYA GAK BEGITU.

Hey, yang mengatur segalanya itu Allah.
Allah itu lebih tau apa yang dibutuhkan oleh hambanya.
Bukan hanya sekedar yang diinginkan saja.

Sudahlah, terima saja.
Ikhlaskan saja.
Jalani saja.

Bukannya kau tidak pantas untuk mendapatkan apa yang kau inginkan.
Bukannya kau tak terlalu baik untuk mendapatkan yang kau inginkan.

Tapi…
Allah tau yang terbaik untukmu. Bahkan lebih dari siapapun didunia ini. Sekalipun dirimu sendiri.

Makanya, Allah memberikan apa yang benar-benar kita butuhkan. Bukan apa yang hanya sekedar kita inginkan

Jadi, mulai sekarang. Berhentilah memaksakan kehendak. Terima saja apa yang sudah Allah takdirkan untukmu. Tersenyumlah.
Ambil nafas panjang.
Angkat kepalamu.
Dan jalani semua yang telah ditentukan untukmu.
.

.

.

.

.

.

kontribusi oleh @ameliatririzkiani