Cari

Elza Alzakinan

menulis apapun yang terlintas di hati,fikiran dan apapun yang ingin aku tulis

Mengawasi Jiwa Ini

Jiwa ini senantiasa bergejolak, terkadang ia tenang dalam ketaatan, terkadang ia lalai dengan kefuturan bahkan sering ia liar dalam kemaksiatan. Maka tajam kan mata ini ya Allah, agar diri mampu mengawasi (muraqobah) jiwa dalam setiap amal yang ia perbuat. Karena jika jiwa ini ku biarkan begitu saja tanpa terawasi dan terkendali maka jiwa ini akan melampaui batas lalu rusak dan sakit.
Karena aku bahkan tak pernah sedetik pun terlewat dari pengawasan mu ya Rabb.. “… sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (an-Nissa ; 1) “ Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya ?” (al-Alaq ; 14)
Sedang hamba tidak pernah lepas dari tiga keadaan, yaitu dalam ketaatan , dalam kemaksiatan dan dalam hal yang mubah.

Maka semoga keta’atan ini diringin dengan keihlasan dan hamba mampu memeliharanya dari cacat karena sombong, ria dan penyakit hati yang merusak ketaaan diri.

Dari Kemaksiatan ini semoga hamba segera sadar dan bertaubat dan meninggalkanya karena rasa malu juga takut kepada Mu”

Dari setiap mubah semoga mampu hamba kecap manisnya untuk hamba syukur.
Hamba mohon semoga mendapat keridhoan yang telah Engkau sebut dalam firman Mu, .. “ … Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepda-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut terhadap Tuhannya.” ( al-Bayyinah ; 8)

Maka mampukan hamba untuk mengawasi diri juga senantiasa sadar akan pengawasan Mu.
-Fy-
.
Kontribusi oleh @paperofme

26,April 2017

Aku termasuk orang yang terlalu jujur dengan perasaan, hingga kejujuran itu sendiri yang membuatku ada pada tahap saat ini.

Tahap dimana, aku tidak percaya lagi pada harapan apa pun dan siapa pun.
Tahap dimana, aku tidak ingin membuka cerita bodoh di masa lalu; dimana tidak ada kejadian apapun tetapi selalu kujaga layaknya seluruh prasangka adalah harta kenangan.

Aku cukup bahagia, masih dapat merasakan seluruh cerita kasih dan cinta yang mereka ceritakan.

Aku cukup percaya, aku akan memiliki waktu dan kebahagiaan itu termasuk sepaket rasa sakit yang tidak membuat menderita, tetapi menjadi pelajaran tidak terduga.

 

 

K.aulia R

17 april, 2017

Banyak yang ku pertimbangkan saat ini.
Banyak yang ingin ku sampaikan.
Tapi pertimbangan itu terlalu berlarut. Penyampaian ku tidak pernah bisa terucap.

Darimu, aku belajar caranya mencintai dengan benar.
Aku belajar cara menyembuhkan luka dan melupakan.
Aku belajar membangun pondasi kuat untuk menjadi lebih tangguh.

Hm, sudah terlalu banyak yang ku pelajari darimu. Tapi ada satu hal yang belum ku pelajari sampai saat ini.

Kamu tau apa itu ?
Ya, belajar melepaskan. Melepaskan apa yang sudah ku miliki. Melepaskan apa yang ku inginkan.

Melepaskan apa yang sedang ku perjuangkan. Kamu tau kenapa ? Karena tanpa kamu sadari, ini sudah tahapnya.

Dan memang sudah waktunya

 

K.Aulia R

 

RAJ & MDR

22 Maret 2017

Memiliki tujuan baik pasti ada harapan besar untuk terwujud. Selain niat, tak lupa doa pun mendadak menjadi rutinitas seketika. Usaha dan doa menjadi keyakinan akan terwujudnya harapan itu. Namun siapa sangka ketidakberuntungan mematahkan harapan. Sedih dan kecewa adalah akibat yang harus dirasakan.

Ketika Allah belum mengabulkan doa-doa kita, mungkin saatnya kita untuk merenungi semua. Selain berprasangka baik, mengoreksi kembali dan mulai menasehati diri. Bukan bermaksud menyesali keadaan, tapi sekedar mencoba bermuhasabah.

Mungkin memang inilah waktu yang tepat berdiskusi dengan hati. Sejenak bertanya kepada diri sendiri.
Apakah masih banyak maksiat yang menghalangi? Apakah ada ujub yang menggerogoti niat? Sehingga Allah khawatir jika tujuan itu dikabulkan lantas kita menjadi bangga, pamer, sombong

Mungkin Allah tak bermaksud enggan untuk mengabulkan doa, melainkan Dia memberi kita kesempatan untuk berubah. Sampai saatnya Allah menyatakan bahwa “memang pantas doa-doa itu untuk dikabulkan”

 

Apakah kau tahu ?

Apakah kamu tahu bahwa aku menunggu?

Mungkin bagimu sederhana; tiada kabar berarti selesai segalanya. Meski nyatanya, berbeda. Tidak ada perjuangan tanpa kesabaran. Penantian adalah salah satu upayanya. Kamu perlu tahu, beberapa waktu lalu ayahku berpesan; untuk tidak mengganggu jika kamu sedang sibuk dengan duniamu. Aku mengangguk setuju. Sampai pada kalkulasi jam demi jam yang berganti hari aku menghitung dengan satu pertanyaan, “Sampai kapan?”

Apakah kamu tahu bahwa perempuan adalah makhluk perasaan?

Mungkin bagimu sederhana; tidak berikatan apa-apa berarti tidak perlu mempertanggungjawabkan kata-kata. Aku tidak percaya. Aku masih memiliki keyakinan bahwa kamu tidak sebegitu kekanakan. Pun, ketika seorang lelaki mendengarkan cerita dan harapanku tentangmu, dia berpesan; berhentilah menyakiti diri sendiri untuk lelaki yang menghindari pentingnya memperjuangkanmu yang menunggu, meskipun sekedar memberi waktu luangnya. Hanya saja, aku masih seperti perempuan kebanyakan yang terlalu berperasaan dan sudah memilih; untuk memiliki keyakinan.

Apakah kamu tahu bahwa aku selalu mengadukanmu pada Pemilikmu hingga kelelahan?

Mungkin bagimu sederhana; tak perlu menggenggam, tak perlu mengejar, dan tak perlu mempertahankan. Sesungguhnya, tidak semudah itu bertahan tanpa kepastian dan tampak seperti dilepaskan. Bagiku pun mungkin berbeda. Aku menunggu dalam diamku. Sudah berkali-kali aku memberi tahu dan memulai lebih dulu. Jika bagimu tidak cukup, maka aku tidak tahu lagi harus memperlakukanmu bagaimana. Harus meletakkan harga diriku di mana. Hanya kepada Pencipta aku meminta hatimu. Mengharap sedikit lebih banyak perhatianmu.

Tolong, jangan lagi menyembunyikan apa-apa. Minimal di antara kita, karena bagimu dunia tidak butuh tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa yang kau lakukan padaku. Apa yang telah kau curi dariku. Tanpa usahamu. Tanpa keyakinanmu.

….. dan selalu saja, dengan bodohnya aku masih ingin menunggu.
Sedikit lebih lama lagi, jika memungkinkan.

K. Aulia R.

10 Maret 2017

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah berkata:
.
“Jika Allah memudahkanmu untuk selalu bangun shalat malam, maka jangan pernah mencibir mereka yang terlelap tidur…
.
Jika Allah memudahkanmu untuk selalu berpuasa, maka jangan pernah mencibir mereka yang tidak mengerjakannya…
.
Jika Allah memudahkanmu untuk terjun di medan jihad, maka jangan pernah mencibir mereka yang tidak mengangkat senjata…
.
Sesungguhnya betapa banyak orang yang tidur, tidak berpuasa, dan tidak mengangkat senjata, justru mereka lebih baik darimu…
.
Sesungguhnya, sekalipun engkau tidur semalaman tapi saat bangun pagi engkau dihinggapi penyesalan, maka itu jauh lebih baik daripada engkau tahajjud semalaman tapi saat bangun pagi engkau dihinggapi rasa ujub penuh kesombongan.
.
Karena orang yang ujub, amal perbuatannya tidak akan pernah diterima Allah Ta’ala.”
.
(Madarijus Salikin, 1/177).
.
Yaa Allah, ampuni kami jika masih ada ujub dalam hati kami…
Aamiin.
.
Kontribusi oleh @ifitrianty

18 februari,2017

rasa kecewa,resah dan merasa terhempas yang aku rasakan akhir akhir ini sama halnya seperti perasaanku di februari tahun lalu , entah adaapa dengan Februari setiap saat berjumpa dengannya iya slalu memberikan cerita kecewa dan luka yang hebat untukku.. tapi aku tak pernah mengutuk februari aku slalu berharap semoga perjumpaan kita di tahun yang akan datang februari memberiku cerita bahagia yang dengannya aku lupa rasa sakitku di februari sebelumnya .. 
17.02.2017

Pemilik Kenangan ..

Menertawakan masa lalu adalah upaya belajar bahwa kebodohan tidak perlu diulang. Meski terkadang, masih saja air mata beruraian. Hanya karena memang tidak semudah itu menerima apa yang sudah lewat jauh di belakang.

“Mana ada, sih, manusia yang nggak punya kenangan?”

“Itulah alasanku tidak ingin membuat atau menambah lagi kenangan.”

“Kenapa?”

“Aku suka sekali menyimpan kenangan sendirian. Akan terlalu menyakitkan untuk membaginya kemudian, ketika orang yang diceritakan tidak tahu benar bagaimana memahami perasaan.”

“Memang tidak akan ada yang bisa…”

“Maksudnya?”

“Kenangan dan perasaan itu, selamanya hanya akan kamu miliki sendirian. Meski bagaimana usahamu untuk menceritakan dan membagikan, tidak ada yang bisa paham benar-benar. Sudah sangat cukup jika ada yang mau mendengar semuanya dan tetap ada kemudian. Sebatas itu saja peran orang lain untuk kenangan dan perasaan yang bukan –dan tidak pernah menjadi- miliknya.

K. Aulia R.

Percaya…

Selalu percaya, bahwa segala sesuatu yang benar pasti akan membawa kebaikan. Seperti pertemuan. Entah dengan atau tanpa sengaja, dapat memberi kesan dan pelajaran. Seperti perbincangan. Apa-apa yang disampaikan dengan ketulusan akan diterima tanpa perlawanan.

Bukankah banyak sekali dalam hidup yang patut untuk disyukuri?

Kesalahan-kesalahan dapat menjadi hikmah dan pelajaran. Masa lalu yang kelam dapat menjadi cahaya masa depan. Percaya saja. Segala luka dan kesakitan pasti memiliki masa untuk sepenuhnya sembuh. Segala duka dan keburukan bukan untuk dilupakan, tetapi diikhlaskan.

Maka, bagaimana kita sebagai manusia masih tidak percaya kuasa-Nya?

Ketakutan dan kekhawatiran pasti datang silih berganti. Keyakinan adalah keteguhan yang perlu terus diperbaharui. Tetaplah percaya. Janji-Nya adalah pasti. Tidak ada yang lebih baik daripada pemberian-Nya. Tanpa lupa untuk mengusahakan dan memantaskan diri agar terus dapat diberi berkat dan rahmat-Nya.

K. Aulia R

WordPress.com.

Atas ↑